Ada seorang raja, ke mana pun dia pergi, senantiasa disertai oleh
kepercayaannya. Setiap kali raja mengalami suatu kejadia, ia selalu curhat
kepadanya. Orang kepercayaannya itu akan selalu mengatakan, “Semoga itu semua
menjadi kebaikan,” Si raja pun menjadi bosan dengan jawaban yang selalu
dikatakannya.
Suatu har, jari sang raja terputus dan dia pun memberitahukan hal itu
kepada kepercayaannya. Sepertinya biasanya, dia mengatakan, “Semoga itu semua
menjadi kebaikan.” Sang raja pun menjadi marah dibuatnya, seraaya membentaknya,
“ apa yang kamu katakan?! Apa baiknya kalau jari saya terputus?”
Kemudian sang raja memerintahkan para pengawalnya seraya berkata, “ masukan
dia ke dalam penjara.” Dia pun mengatakan “ Semoga ini semua akan menjadi
kebaikan.” Sang raja pun semakin murka dan berteriak, “ Cepat jauhkanlah dia
dari hadapanku. Aku muak melihatnya.”
Di lain waktu sang raja bersama para pengawalnya pergi ke suatu hutan untuk
berburu. Namun sial bagi mereka, karena suku penghuni hutan menawan mereka dan
menjadika mereka sebagai tumbal bagi dewa mereka. Satu per satu pengawalnya
menjadi korban tumbal sembahan mereka. Hingga akhirnya, tiba giliran sang raja.
Namun, mereka melihat jari sang raja ada yang terputus. Padahal, syarat korban
tumbal sembahan mereka adalah orang yang sempurna secara fisik. Sang raja pun
akhirnya dilepaskan dan dia berhasil selamat dari kematian.
Sang raja bergegas kembali pulang. Ketika telah sampai, dia langsung
memerintahkan agar orang kepercayaannya dikeluarkan dari penjara. Lalu sang
raja menceritakan kepadanyaapa yang telah diakaminya di hutan. Kemudian, dia
bertanya kepada orang kepercayaannya, “ Lalu apa yang kamu dapatkan selama di
penjara?”
“ Wahai raja, tidakkah selama ini saya selalu menyertaimmu ke mana pun
engkau pergi? Andaikan kemarin saya bersamamu pergi ke hutan itu, niscahya saya
akan menjadi salah satu korban tumbal sembahan mereka, “ Jawab orang
kepercayaan raja.
Kisah sederhana namun penuh hikmah dan makna ini saya ambil dari buku yang
berjudul “110 Hikmah Untuk Setiap Muslim” halaman 46-47.
Allah bersabda, “Bisa jadi yang kamu benci akan menjadi baik untukmu namun
bisa jadi yang kamu suka belum tentu baik untukmu.”
Rasa yang saya rasakan ketika membaca kisah di atas adalah rasa sadar. Ya sadar,
mengapa demikian? Terkadang kita sebagai manusia tidak mengetahui kebaikan atau
hikmah sebuah cobaan. Memang, akan terasa sulit berpikir jernih dalam suatu
masalah yang rumit. Namun ketika kita dapat mengolah pikiran supaya tetap
jernih dan selalu positif, maka apapun yang terjadi akan berakhir positif
(baik). Karena apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa jadi sebuah kenyataan.
Karena Allah bersabda “Aku mengikuti prasangka-prasangka hambaku” .
subhanallah.
Sebetulnya saya disini bukan menggurui pembaca, hanya saja kisah dan hikmah
yang terdapat di kisah ini merupakan pembelajaran berharga buat saya. Semoga
bukan hanya saya yang mebdapatkan pelajaran berharga dari kisah sederhana ini,
namun semua yang membacanya atau bisa juga membaca bukunya langsung supaya
lebih luas lagi ilmunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar